Kamis, 24 Juni 2010

Tugas TeKom

Teknik Komunukasi dalam Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dimaksutkan agar para mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik dalam dunia kerja dan dalam masyarakat. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memberikan tigas-tugas terhadap mahasiswa.
Tugas yang diberikan pada angkatan 2009 adalah pembuatan film, Bannner, dan laporan. Menurut saya tugas tersebut kurang efektif dalam mencapai tujuan utama dari mata kulih Teknik Komunukasi. Seharusmya tugas yang diberikan lebih mengexplor mahasiswa dalam teknik berbicara didepan umum. Seperti mengadaka semacam lomba pidato atau depat yang lebih mengasah pada kemampuan berkomunikasi mahasiswa.
Tugas-tugas yang ada tidak perludiganti tapi ditambah, agar mahasiswa tidak hanya ointar atu pandai dalam bidang teknologi tetapi juga pandai dalam bidang berbicara.
Sudah menjadi rahasia umum tidak mudah berbicara di depan umum. Banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari penampilan sampai cara kita berdiri.
Mengapa tekom tidak mengajarkan hal-hal demikian?? Padahal hal tersebut sangat dasar dalam teknik erkomunikasi. Memang kelihatan sepele tetapi tidak jarang orang ayng tidak bisa mengatasi hal-hal sepele seperti itu.
Saya Berharap TeKom bisa memberikan yang terbaik bagi mahasiswa.

Rabu, 23 Juni 2010

TakE A PictuRe

Dalam Tugas Mata kuliah Teknik Komunikasi kami diminta untuk membuat film...........
hahahaha...... ternyata membuat film tidak semudah yang dikira.
Pertama dalam mengambil gambar benar-banar memerlukan keahlian khusus. Agar gambar yang diambil tidak goyang maka tangn tidak boleh terlalu banyak bergerak. Ne ada Tips hehehe.....


Tips Merekam Video Dengan Sempurna

Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.

  1. Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.
  2. Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
  3. Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
  4. Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
  5. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
  6. Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)
  7. Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.
  8. Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shotakan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik. (sumber; PPSW – Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita: http://www.ppsw.or.id)


Senin, 07 Juni 2010

Soloooo.... Solooooo....

Teknik Komunikasi adalah salah satu mata kuliah yang ada di Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota. Maksut dari mata Kuliah ini agar mahasiswa teknik Perencaan Wilayah Dan Kota mampu berkomunikasi dengan baik.
Salah satu tugas teknk komunukasi adalah pembuatan film. Tema dari film yang saya ambil adalah world class city dengan lokasi syuting di Kota Solo. World class city dapat didefinisikan sebagai kota bertaraf internasional. Solo bisa dikatan sebagai kota yang hampir memiliki taraf internasional, mulai dari penataan kota yang rapi dan masih melestarrikan kebudayaan yang ada. Bagi saya salah satu yang unik dari kota Solo adalah penataan pedagang kaki lima, biasanya pedagang kaki lima dianggap sebagai sutu masalah dalam perkotaan, namun hal itu tidak berlaku di solo. Kota Solo bisa mengubah masalah tersebut menjadi dauya tarik yang unuk bagi wisatawan. Pedagang kaki lima bukan suatu masalah tapi sutu potensi yang sangat menarik. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya tempat yang memang disediakan untuk pedagang kaki lima sehingga membentuk sutu komplek yang benar-benar menarik.
Penataan tenda yang rapi di sepanjang jalan dan penutupan jalan bagi kendaraan membuat komplek pedagang kaki lima sangat potensial untuk dikunjungi para pejalan kaki.
Sebenarnya Solo lebih menarik jika dibandingkan dengan Kota Yogyakarta, dengan semua keramaian Jogja membur kota tersebut tidak indah.